Menu

Jumat, 10 November 2017

Project Van Tiouw #1: "Dokumentasi" Tari Lenso

Negeri Tiouw, Saparua, Maluku Tengah.
Selasa, 10 Oktober 2017.

 Siang, tapi mendung. Kami -tim Ekspedisi Jalur Rempah Saparua, disambut meriah oleh basudara negeri Tiouw. Turun dari otto warna-warni, musik dari pengeras suara yang berada di pojok tenda halaman kantor negeri, berbunyi nyaring. Berbalut baju merah-abu-abu andalan tim EJR, kami berjalan rapi memasuki halaman berumput hijau yang pinggir-pinggirnya sudah dipenuhi oleh banyak orang, -tua, muda, laki-laki, perempuan, semua ada.

 Di area sebelah utara, berjejer rapi anak-anak yang kutaksir merupakan murid SD-awal SMP, mengenakan baju cele, seragam khas anak-anak Maluku dengan motif kotak-kotak berwarna merah agak muda dan putih. Saat tim EJR sudah persis bersebrangan dengan mereka, musik yang nyaring tadi dimatikan. satu. dua. tiga. empat detik, sunyi. pluk, suara tifa kemudian memecah kesunyian, disusul oleh harmoni suara anak-anak -yang sebagian besar perempuan- menyanyikan sebuah lagu. Rupanya lagu yang mereka bawakan adalah pengiring tarian 12 teman putri mereka yang mengenakan baju putih, dan kain merah sebagai bawahan. Namanya Tari Lenso.

 Tarian sambutan ini dibawakan dengan anggun, diiringin musik dan nyanyian sederhana, tapi berkesan dan mengundang haru bagiku. Siang itu, ada sedikit bulir air yang menetes dari kedua mata yang disebabkan oleh dua hal; pertama, terharu karena disambut oleh saudara yang baru pertama kali berjumpa; kedua, sedih karena tidak bisa ikut mendokumentasikan secara digital akibat telpon pintarku yang kehabisan daya.

(dipotret oleh bang Elvan de Porres)

 Tari Lenso....satu tarian anak maluku...manari lenso manise...


(menari dengan sapu tangan putih. Cr: Elvan)

 Sebenarnya, iringan lagu dari tari Lenso ini mudah untuk diingat, karena selama kurang lebih 9 menit kami disuguhi tari Lenso, lirik yang dibawakan merupakan pengulangan dari sebelumnya. Kesederhanaan iringan lagu tari lenso rupanya melahirkan rasa cinta, menjadi penghubung manis antara aku dan Maluku. Siang itu, dalam hati aku berjanji untuk menghafalkan lirik lagu iringan tari Lenso. 

Samarinda-Yogyakarta.
5-10 November 2017.


 Walau tidak pernah lengkap, aku selalu berusaha menyanyikan lagu iringan Tari Lenso. Lewat lagi ini, aku merasa selalu bisa mengingat Saparua -disamping lagu Tobelo tentunya. Tapi lama-lama bosan juga jika terus menerus melafalkan secara setengah-setengah. Akhirnya niat untuk menghafalkan lagu iringan ini tiba-tiba tumpah-ruah. Awalnya kuhubungi Wanda, Bang Ian (sebagai dua orang Maluku) dan Fikri (sebagai si tukang menulis lirik lagu) untuk membantuku, barangkali mereka bisa memberikan padaku lirik lengkap lagu iringan Tari Lenso. Sambil bertanya, aku mencoba berselancar di internet, tapi nihil. Beruntung ingatanku masih bisa diandalkan, kubuka kembali file-file yang didapat dari teman-teman EJR, sebab kuingat betul jika si Nurmi pernah merekam tari penyambutan ini. Hasilnya, tentu menyenangkan!

 Kutulis kalimat-kalimat yang muncul dari bibir-bibir mungil anak-anak Negeri Tiouw lewat video tari lenso yang kala itu direkam Nurmi. Sayangnya, ada beberapa kata yang sama sekali tidak kupahami walau sudah didengar berkali-kali. Dengan bantuan dari Wanda, aku berhasil melengkapi kata yang kosong dan dengan perasaan bahagia berhasil menyanyikan lagu iringan Tari Lenso secara lengkap. Sebagai informasi, aku mengalami kesulitan dalam menyerap kata-kata ini dengan sempurna; kadonci dan pung donci.

 Memang manusia, dasarnya merupakan makhluk yang sulit sekali merasa puas, maka aku pun juga begitu agar diakui sebagai manusia #hehe. Jadi, usai keberhasilan menulis lirik lengkap lagu iringan tari Lenso, masalah baru muncul; bosan jika menyanyi tanpa diiringi oleh alunan musik. Disini lah, project Van Tiouw #1 ini bermula.

 Ku hubungi Herlan yang berada di Samarinda sana, alasannya cuma satu: Herlan adalah pengiring gitar andalan tim Saparua. Ku ajak dia untuk membantuku membuat iringan gitar sekaligus menuliskan chordnya, karena sungguh aku tidak paham dengan dua hal ini. Beruntungnya, Herlan mengiyakan ajakan aneh-aneh dariku, dan berikut hasil kolaborasi jarak jauh kami.

begini lirik lagu iringan tari Lenso beserta chord gitarnya:

E                             A
Tari lenso, tari lenso sio datang dari

E
ambon

F#m B         E
Satu tarian, satu tarian anak maluku

A                                                                                     E
Lenggang balenggang, lenggang balenggang, balenggang dari sana

B                           A                                 E
Untuk menghibur, untuk menghibur hati yang susah

B A                             E        F#m B         E
Pukul tifa totobuang, totobuang dari rumah tiga. Manari lenso goyang badane, manari lenso manise

E                 A                                 E      F#m B                                                            E
Kapal tiga, kapal tiga sio datang dari sana. Kapal yang tengah, kapal yang tengah buat kadonci

A                                                             E     B                            A E
Sio nona tiga, sio nona tiga balenggang dari sana. Nona yang tengah, nona yang tengah sapa pung donci

B A         E        F#m B E
Pukul tifa totobuang, totobuang dari rumah tiga. Manari lenso goyang badane, manari lenso manise


(audio lengkap lagu iringan tari lenso, dinyanyikan oleh Linda dan Herlan)

Project Van Tiouw pertama ini memang diposting dalam blog Linda, tetapi merupakan karja dari banyak pihak, seperti:

1. Herlan sang gitaris yang sudah mau diajak LDP alias Long Distance Project bersamaku haha. Samarinda-Jogja tidak menghalangi kita untuk bikin project ala-ala, yha! Semoga project selanjutnya segera menyusul, doakan saja ya teman-teman semoga Herlan tidak kapok wkwk.

2. Nurmi yang sudah merekam acara penyambutan EJR Saparua, dimana salah satu videonya berisi tari Lenso full version dari anak-anak Negeri Tiouw. Video ini sangat membantuku dalam menuliskan lirik lagu, juga Herlan dalam mencari chord gitar.

3. Wanda yang sudah membantu membetulkan lirik lagu tari Lenso dari ku -yang masih butuh banyak belajar kosa kata bahasa Maluku.

4. Bang Elvan  yang banyak memotret momen di Tari Lenso. Berkatnya, kita bisa melihat secara visual bagaimana anak-anak negeri Tiouw, Saparua menari Lenso, tanpa perlu menerka-nerka lebih banyak.

5. Keluarga Van Tiouw-ku yang lain. Dimana mereka setiap hari selalu berkontribusi dalam memenuhi memori telepon dengan sapaan hingga foto-foto hina. Berkat kicauan kalian, Aku dan Herlan jadi semangat menyelesaikan misi ini, haha! Semoga kalian senang dengan ini :)

 Harapannya, apa yang diunggah dalam postingan ini dapat membantu dalam mendokumentasikan kearifan yang dimiliki Indonesia, khususnya pulau dua sampan kebanggan kami, Saparua. Semoga kedepannya makin banyak jejak digital tentang wajah Indonesia yang berhasil kami dokumentasikan!

(Nona van Tiouw menari Lenso manise. Cr: Elvan)


Salam Rindu untuk Maluku,

-Linda Fitria van Tiouw.

Kamis, 02 November 2017

Terimakasih, Maluku, Aku Beruntung Menjadi Minoritas.



Dua angka di kalender bulan Oktober, 9 dan 22, menjadi penanda yang akan terus diingat untuk waktu-waktu selanjutnya. Di antara kedua angka ajaib ini, aku banyak sekali memproduksi kisah untuk dicatat dalam bagian tertentu dalam kepala. Kisahku kali ini adalah tentang Aku yang bertemu sekumpulan orang dalam lingkaran bernama Ekspedisi Jalur Rempah 2017, Provinsi Maluku. Keberuntungan yang kudapat sehingga bisa bergabung dalam forum ini (karenanya Aku bisa “merampok” banyak pengalaman hidup) menuai banyak ucapan terima kasih dariku untuk banyak pihak yang sebenarnya tidak bisa kusebut satu-persatu, akan tetapi postingan ini justru ditujukan kepada mereka. Kepada siapapun ciptaan Tuhan yang terlibat dalam pembuatan kisah manis antara Aku dan Maluku.

Baik, mari kita mulai.

Terima kasih pertama, untuk Dirjen Sejarah, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, baik kepada jajaran pemimpin di dalamnya, penginisiasi kegiatan Ekspedisi Jalur Rempah 2017, hingga segenap panitia yang terlibat –mulai dari panitia pusat hingga lokal. Terutama untuk Mbak Devi (panitia pusat batch 1 yang sekaligus merupakan senior saya di Antropologi UGM), dimana berkat share informasi dari beliau-lah saya bisa mendapatkan kesempatan untuk terbang ke Maluku. Dalam kategori per-panitia-an ini, mungkin akan saya masukkan juga para mas-mbak EO yang di hari-hari terakhir mulai kupahami perannya (bahwa sebenarnya mereka kebanyakan mahasiswa semester akhir yang tidak memiliki ikatan apa-apa dengan Kemendikbud, hehe).

Terima kasih kedua, kepada Tanah Maluku yang indah! Sebuah mimpi yang akhirnya menjadi nyata ketika berhasil menginjakkan kaki di Maluku untuk pertama kali. Sedikit cerita, awal semester 5 lalu, entah karena dorongan apa aku mencetak peta provinsi Maluku untuk ditempel pada sampul buku kuliah dan mading di kamar. Ada harapan kecil yang ditautkan pada keduanya, “ah, barangkali tahun depan Aku bisa KKN disana”. Pun selanjutnya muncul motivasi macam “ayo nabung yang banyak buat ke Maluku!” “ayo cari tim buat jadi pengusul KKN di Maluku!” dan sebagainya, dan sebagainya. Kemudian, keajaiban terjadi dengan bergabungnya aku dengan tim Ekspedisi Jalur Rempah, lewat pemberitahuan via telepon yang kuterima senin pagi, September lalu.

Maluku benar-benar mengajarkanku bagaimana caranya menjadi seorang minoritas melalui proses yang indah. Awalnya tak ada yg benar-benar berbeda saat pertama kali mendaratkan kaki di Ambon, selain rupa-rupa baru yang kutemui di bandara Pattimura pagi itu. ohya, bahasa yang digunakan mereka pun masih kumengerti, setidaknya aku pernah berada di antara orang-orang yang sama sekali tak kumengerti bahasanya seperti orang-orang sepuh di bukit-bukit Paninggraan, Pekalongan. Namun Kota Ambon hanyalah sebagian kecil dari Maluku, sebab semua berbeda saat aku mulai menginjakkan kaki di Saparua, Kepulauan Lease, Maluku Tengah. Disini aku disambut oleh masyarakat yang sebagian besar beragama Nasrani. Pun Mama Papa piara sebagai keluarga yang “menampungku” selama di Saparua, juga merupakan keluarga Nasrani yang memiliki seekor anjing cokelat manis bernama Nona.

Segala kebaikan yang kudapatkan di Saparua membuatku merasakan bagaimana menjadi seorang minoritas dalam konteks paling sensitif di negeri ini. Seminggu menjalani kehidupan bersama keluarga dan lingkungan Nasrani ternyata memberiku banyak sekali hal baru; melihat bagaimana seorang Mama menyiapkan segala sesuatu untuk ibadah di rumah; mendengarkan Mama, Papa dan teman-temannya mengalunkan ayat-ayat suci di ruang depan; menyaksikan Negeri Tiouw sebagai negeri tempat tinggalku, benar-benar sepi di minggu pagi. Aku seringkali terharu akan banyak hal-hal sederhana yang diberikan oleh Saparua dan orang-orang di dalamnya. Masih segar diingatan bagaimana tiap pagi mama bangun menyiapkan sarapan, apalagi disaat hari kepulangan kami ke Ambon. Mama, Papa, juga Nona, melepas kepergian kami di pagi buta. Aku juga ingat betul bagaimana Pak Agustinus selaku Pejabat Negeri menutup perpisahan kami dengan doa Nasrani yang entah mengapa membuat malam itu air mataku mengalir sebab merasakan banyak hal; bersyukur, terharu, sedih sekaligus senang.

Kawan, ada satu lagi hal menarik yang kutemukan di Maluku, tentang sistem Pela Gandong yang menjadikan orang-orang Maluku saling terikat satu sama lain. Awalnya aku banyak “dijejali” kisah persaudaraan ini dari Aida, Wanda dan Nadira, tiga temanku yang berdomisili di Ambon. Lambat laun, seiring bertambahnya interaksi dengan orang-orang Maluku, makin banyak pula kuserap semangat persaudaraan dari sistem Pela Gandong ini. Pela dan Gandong merupakan dua hal yang berbeda namun berada dalam satu kesatuan. Pela merupakan ikatan persaudaraan antara satu negeri dan negeri lain yang lokasinya berjauhan, tetapi masih dalam lingkup Maluku. Salah satu aturan yang mengikat dalam sistem Pela adalah dilarang terjadi adanya ikatan pernikahan antar saudara yang terikat Pela. Pela muncul karena adanya satu kesamaan nasib, dimana para leluhur mereka dahulu pernah menjalani kehidupan yang susah dan senang secara bersama-sama sehingga saling membantu. Leluhur ini kemudian mengangkat sumpah yang menyatakan bahwa mereka adalah saudara yang kelak keturunannya tidak boleh melakukan ikatan perkawinan. Sedangkan Gandong, dikisahkan jika mereka yang terikat Gandong memiliki satu nenek moyang yang sama. Mereka yang terikat sistem Gandong pun juga sama, tidak boleh melakukan perwakilan, sebab jika hal ini terjadi, akan dikenai sumpah oleh leluhur mereka. Orang Ouw di Saparua yang merupakan kampung Kristen, misalnya, menggap orang Sei di pulau Ambon sebagai Gandong mereka karena merasa bahwa mereka berasal dari satu garis keturunan, walau Sei sebagai kampung dengan mayoritas Muslim. Larangan dan sanksi-sanksi dalam hubungan gandong hampir mirip dengan larangan-larangan dan sanksi-sanksi dalam hubungan pela. Karena itu orang seringkali menyebut pela-gandong, walaupun keduanya merupakan dua hubungan kekerabatan yang latar belakang pembentukannya berbeda satu dengan yang lain.

                Maka, dari segala hal yang sudah kudapat, Maluku bagiku adalah tentang kemurahan hati. Maluku adalah tentang orang-orang yang percaya bahwa manusia tidak dipersoalkan dengan masalah identitas, karena saling mencintai dan mengasihi antar sesama harusnya tak tersekat oleh batas-batas. Lewat sistem dan pola hidup Pela-Gandong, mengajarkan kepadaku bahwa persaudaraan dapat terjalin, melampaui batas suku dan agama. Menjadi saudara berarti saling merasakan satu sama lain, seperti kata kaos oblong yang kubeli di Pasar Mardika sore itu, Ale Rasa, Beta Rasa. Maluku adalah tentang orang-orang yang dipersatukan oleh Laut, Kenari, Pala, Sagu dan segala hal yang dijual di pasar-pasar negeri. Maluku juga tentang memaafkan luka sejarah yang telah ditoreh, mengingatkan bahwa seharusnya manusia “beragama” kepada keberagaman dan kebaikan. Dan Maluku bagiku adalah tentang alunan musik yang senantiasa berdendang dalam Oto warna-warni, pun tentang rupa-rupa bahagia diantara hentakan kaki pada iringan lagu Tobelo.

Terima kasih ketiga, kusampaikan pada teman-teman EJR ku yg berasal dari Sabang sampai Merauke, terkhusus koridor Saparua. Dari kalian pun, aku juga belajar bagaimana menjadi minoritas. Pembelajaran sebagai seorang minoritas yang kurasakan disini adalah menjadi 'asing' di tatanan bahasa. Bersama mereka, aku sadar jika menjadi Jawa tidak berarti apa-apa (padahal sebenarnya aku Cuma numpang hidup di Jawa, sih, bukan asli Jawa). Tapi tetap saja, baru kali ini, di lingkaran ini, aku mendapat gelar Medok, bahkan Ngapak. Aku masih ingat betul bagaimana Alan Aceh memanggilku Jeblok, yang seolah mengidentikkan seorang Linda dengan Jawa yang medok. Aku juga ingat saat Mas Adit yang juga perwakilan Jawa Tengah (tapi asal Jakarta) bertanya padaku tentang "De Pe" yang sering disebutkan oleh Bang Kasmat asal Gorontalo. Peristiwa ini membuatku bersyukur, setidaknya bukan aku saja yang merasakan bertanya-tanya tentang “De Pe” milik Bang Kasmat. Maka disini, aku seolah menjadi penonton dua kubu besar dimana aku tidak termasuk dalam keduanya; antara mereka yang mendiami Sumatra dengan dialek Melayu yg khas, juga mereka yang berasal dari Maluku, Nusa Tenggara dan Papua yang suka sekali menyingkat kata. Aku merasa terjebak diantara dua kelompok ini, sebagai seorang 'Jawa' yang sedikit kesusahan menyerap percakapan ketika dua kelompok besar ini saling melontarkan kekhasan mereka dalam berbahasa.

Jadi, untuk segala percakapan dengan banyak warna yang sudah kita bangun selama dua pekan kemarin, kuucapkan terima kasih banyak kepada kalian; Alan Sabang, Tami Palembang, Risa Padang, Nurmi Riau, Andre Lampung, Fikri Jakarta rasa Bengkulu, Mas Adit Semarang rasa Jakarta, Herlan Samarinda, Kak Tajir Mandar, Bang Kasmat Gorontalo, Bang Elvan Maumere, Miki Papua, Aida-Nadira-Wanda-Bang Ijal-Riski selaku tuan rumah dari Maluku. Juga pendamping-pendamping Tim Saprua; Bang Dodot, Bang Ian, Pak Pieter, Pak Nurwahyudi & Bang Andre. Di postingan lain, mungkin akan kuceritakan kalian dengan rinci, agar ingatanku akan kalian juga terekam dalam laman digitalku ini. Terima kasih, kawan-kawan EJR! Tanpa masuk ke dalam lingkaran ini, mungkin aku tidak akan mengerti bagaimana rasanya menyanyikan Lagu Indonesia Raya dan Padamu Negeri bersama orang-orang dengan logat berbeda tapi bercampur menjadi kesatuan harmoni yang indah :)

Terakhir, selain berterima kasih kepada Tuhan dan Ibu yang selalu mendoakanku dari kejauhan, aku pun harusnya berterima kasih kepada diriku sendiri yang sudah berhasil menyerap energi-energi positif dari orang-orang baru yang ketemukan di negeri para raja, Maluku.



(Ibu penjaga salah satu dusung/kebun di Saparua)



(Tim EJR Pulau Saparua)


(Aku dan anak-anak Negeri Tiouw)


(Nona Van Tiouw)




Minggu, 20 Agustus 2017

Ujian Kenaikan Kelas

Dulu (mungkin sampai sekarang juga) saya kadang mikir, yang membuat timbul banyak pertanyaan di kepala saya macam;

"Kenapa ya Tuhan kok menakdirkan saya demikian?"
"Kenapa saya yang dipilih Tuhan untuk menjalani kisah hidup yang demikian?"
"Apa Tuhan gak kasian sama saya yang selalu iri sama teman-teman lain kalo liat mereka lagi minta beliin es krim ke Bapaknya?"
"Tuhan sebenernya mau memberi pelajaran apa sih buat saya?"

Jeleknya, kalo udah kelamaan mikir, saya tuh sukanya malah mengutuk diri saya sendiri. Lebih parah lagi kalo udah beranggapan jika Tuhan itu udah gak adil sama hidup saya, padahal kalo diyakini dalam keadaan waras, Tuhan Maha Adil, bukan?

Pertanyaan bergaris miring semacam di atas, kalo saya lagi gak ada kerjaan, sering mampir suka-suka. Padahal kalo udah mampir, ujung-ujungnya tetep aja gak ada jawaban ataupun kesimpulan yang bisa saya ambil, belum saya temukan lebih tepatnya. Kadang karena gak mau kepo-in Tuhan sama pertanyaan-pertanyaan yang dari dulu gak pernah berubah itu, kalo udah ada tanda-tanda kegabutan saya langsung ambil ancang-ancang biar gak jadi gabut. Ya ngapain gitu, makan kek, ngupil kek, baca buku, tidur, naik TJ, liatin orang lewat, paling sering ya dilarikan ke imajinasi tentang masa depan (itulah kenapa saya hobi banget bikin wacana). Jadi bagi kalian yang berkesempatan baca ini, kapan-kapan kalo lagi liat saya semangat bikin wacana, apapun itu, tolong biarin aja. Daripada nanti saya gabut, kalian juga kan yang repot? hehe. Saya tau kok kalo Tuhan itu gak pernah bosen dengerin celotehan saya. Tapi justru saya sendiri malah yang bosen kalo nanya itu-itu terus sama Tuhan :( Sebenernya banyak sih ujian hidup dari Tuhan yang dikasih ke saya biar bisa naik level. Tapi kadang kalo lagi kumat buat dipikirin dalem-dalem, ujung-ujungnya semua ujian hidup dari Tuhan itu balik lagi ke pertanyaan bergaris miring semacam di atas tadi. Mungkin hidup saya berbentuk lingkaran yang cuma punya satu poros, atau mungkin berbentuk suatu bidang yang punya satu sudut aja kali ya?

Dalam kurun waktu 20 tahun saya hidup di dunia, saya ketemu sama banyak orang (yaiyalah). Maksudnya gini, saat ketemu sama orang, saya tuh lebih suka dengerin cerita-cerita mereka. Soalnya kalo saya yang disuruh cerita, nanti malah kelamaan, nanti mereka bosen hehe :( itulah kenapa saya lebih suka berbagi cerita saya lewat tulisan. Banyak emang jadinya. Tapi gakpapa sih. Soalnya menurut saya, siapapun itu yang akhirnya memutuskan membaca cerita saya sampe titik terakhir, itu artinya mereka benar-benar peduli dan mau mendengarkan sedikit celotehan saya ini. Aseg. Lagian saya kadang mikir, kasian juga orang-orang yang terpaksa dengerin saya nyeloteh tentang hidup, sedangkan mereka dengerinnya setengah hati, kan malah bikin beban hidup mereka bertambah toh? jadi mending saya tulis aja di jurnal, atau kalo lagi sempet buka laptop ya ditulis di sini. walaupun saya tahu, nemu kesimpulan dari perenungan secara individu tuh kadang susah hehe. Balik lagi ke alasan kenapa saya lebih suka mendengarkan cerita orang lain: adalah biar saya banyak belajar dari mereka. Dengan mendengarkan kisah apapun itu dari siapapun itu, saya selalu merasa senang. Selain karena saya bisa punya bahan buat ditulis di jurnal (hehe), saya juga akhirnya sadar kalo semua orang itu punya jalan hidupnya masing-masing. Saya makin sadar kalo Tuhan itu Maha Kaya, bisa bikin banyaaaaaak banget skenario kehidupan buat umatNya.

Hari ini, saya menemukan salah satu akun di instagram, namanya @proud.project. Berawal dari pertanyaan "apa momen paling broken dalam hidup?" semua partisipan di dalamnya menceritakan satu persatu bagaimana mereka bertemu dengan yang namanya cobaan hidup, masalah, apapun itu yang sekaligus membuat mereka bertemu juga sama yang namanya pelajaran hidup. Dalam kitab suci agama saya, ada satu ayat berbunyi:

“Sungguh, Kami benar-benar akan menguji kamu sekalian agar Kami mengetahui orang-orang yang berjuang dan orang-orang yang sabar di antara kamu sekalian.” (QS. Muhammad : 31)

Bahwa Tuhan saya tuh ingin tau sejauh apa kualitas perjuangan hambaNya dalam hidup, dan seberapa banyak pula jumlah kesabaran yang saya dan kalian semua coba kumpulkan di dunia. Tolak ukurnya lewat apa? ya lewat ujian-ujian hidup masing-masing. Jadi ya bersyukur buat kita-kita yang ternyata berkesempatan dapat ujian, itu tandanya Tuhan perhatian :)

Kalo kata Ibu saya sih, ujian hidup itu ibarat ujian naik kelas. Kalo kita skip, gak ikutan ujian kenaikan kelas, nilai kita di raport nanti kosong, gak naik kelas deh. Sama kayak ujian hidup. Kalo mau naik ke level selanjutnya, ya harus mau menyelesaikan tantangan yang ada. Saya yakin teman-teman -pun saya, sudah hafal banget sama teori ujian hidup macam ini. Sampe bosen mungkin. Tapi sudah berapa banyak kita belajar tentang ujian hidup dari orang-orang di sekitar kita? Sudah berapa banyak kita sadar jika banyak lho orang-orang terdekat kita yang juga butuh didengarkan kisahnya contohnya saya, engga deng. Eh tapi emang bener sih, siapa coba yang gak pengen didengerin? Sesingkat apapun durasinya, orang itu pasti pengen loh kisahnya didengerin. Atau dibaca kalo misalnya dia lebih suka bercerita lewat tulisan. Atau kalo ada temen yang tiba-tiba posting tidak biasa di media sosialnya (( contohnya sekarang tuh kayak ig story hehe )) berarti emang ada apa-apa yang pengen diceritain, Cuma bingung aja kadang gimana caranya. Well, itu menurut saya sih hehe, gak usah digeneralisir.

Tapi, kadang saya sendiri mendadak seneng aja, kalo tiba-tiba ada yang nanyain apapun itu yang berkaitan sama tulisan yang udah saya buat. Tandanya he/she cares about me. Meyakini kalo kehidupan yang makin urban di sekeliling teman-teman saya tuh tidak membuat mereka jadi makluk yang makin egois nan individualis. Halah. Barangkali dengan sama-sama bercerita dan saling merasakan, kita bisa saling menemukan kesamaan dan mencapai satu kesimpulan untuk jadi pelajaran masing-masing. Ea. Kalo di atas saya bilang jika belum ada kesimpulan, atau istilahnya pelajaran paling berharga dari kisah hidup yang Tuhan takdirkan untuk saya, tandanya memang saya masih kurang mendengarkan lebih banyak kisah hingga nanti bener-bener ketemu sama yang sama. Jadi yuk sama-sama belajar lebih banyak lagi!

Bersumber dari instagram yang saya sebutkan tadi, beberapa saya bagikan gambarnya disini. Semoga bisa saling menyemangati dan mendoakan, juga menjadi self reminder pada masing-masing. Dan dari beberapa postingan yang saya bagikan di bawah ini, saya sadar, kalo saya gak sendirian. Ya walaupun kisahnya pasti beda, tapi kurang lebih punya satu kesamaan: sama-sama ujian hidup yang berasal dari lingkaran terdekat bernama keluarga. *apasih*. Kesadaran akan "saya gak sendirian" itu sebenarnya udah ada sejak lama, tapi kadang saya sering lupa. Mangkanya kenapa saya suka nyari-nyari hal-hal semacam ini, adalah supaya saya selalu inget, supaya kesadaran akan "saya gak sendirian" itu makin kuat. Karena saya yakin, semua orang punya bagian-bagian kehidupan yang membuat dia sempat jatuh, right? Jadi saya selalu percaya, bahwa saya gak pernah merasa jatuh sendirian.


*kemudian bengong kenapa jadi nulis kayak gini*