Menu

Kamis, 06 Juli 2017

Tentang Sebuah Gelar


dengan setulus hati
aku memberimu
predikat sahabat

tunggu dulu.
sampai detik ini
aku tak tahu bagaimana caramu
memberikan gelar
kepadaku.

apakah sama?
atau jangan-jangan aku saja
yang terlalu muluk-muluk?

bolehkah kiranya
jika kamu tak memanggilku sahabat?

tentu saja boleh

tak ada satu pun yang menafikan
jika gelar-menggelari adalah
hak masing-masing manusia

dan bukankah
hidup memang begitu?
kita pantang berharap menerima sesuatu
persis dengan apa yang kita berikan sebelumnya

ketika itu terjadi,
namanya pamrih
Pak Yai dan Bu Nyai di surau
selalu melarang kita untuk pamrih, bukan?

tapi
suatu waktu
ketika dia, dan mereka
menyematkan padamu gelar sahabat
alasan apalagi yang membuatmu
tidak menggelari mereka dengan sebutan serupa?

katanya ingin bersikap adil,
dan
menjadi pengamal sila kelima pancasila

saling gelar-menggelari dengan sebutan sama
pertanda sudah bersikap adil, 'kan?

sebentar,
memangnya sedang main hitung-hitungan?

sahabat itu 'kan tentang rasa
berkenaan dengan keselarasan antara kamu
dan dia
dan mereka
dan lainnya

tak berlaku ilmu hitung disini
tak usah pula mencoba mengimbangi
jika memang tak perlu
sebab tak dituntut keadilan disini

ketika ada bisikan untuk bersikap sama
-menggelarinya label sahabat
maka tunaikanlah

kendatipun tak terdengar bahana apa-apa
kamu takberdosa

karena sekali lagi,
gelar-menggelari dengan sebutan sahabat
adalah perihal rasa;
tak ada rumus mantik
apalagi sampai mengeret bab untung-rugi;
setara-tak setara;
adil-timpang;
dan sebagainya
dan semacamnya.

lalu
sudahkah kamu bertemu dengan dia -atau mereka
yang kau sebut sahabat?
pun sebaliknya

jika belum,
mari kita cari -atau tambah jumlahnya
bersama-sama.




Rabu, 05 Juli 2017

Bukitku Dihantui Konsumerisme

Pernahkah kamu merasakan jatuh cinta? Makhluk bernama jatuh cinta itu unik, dia bisa datang dari mana saja. Hadirnya dapat melalui rintik hujan, bau nasi goreng di pertigaan yang ramai tiap malam, potongan lagu dari band metal, bunyi bel sekolah tepat pukul tujuh, rasa manis gulali di pasar malam, permukaan bus kota yang berdebu, suara sapu lidi yang menyentuh halaman tiap pagi, hingga wajah orang asing yang kemudian menjadi peristiwa jatuh cinta pada pandangan pertama. Dua hari lalu, saya bertemu lagi dengan hal yang membuat saya merasakan jatuh cinta untuk kesekian kalinya. Kali ini, bukit yang tak jauh dari rumah menjadi alasan saya untuk kembali jatuh cinta. Tidak ingin berbasa-basi dan keseringan menggunakan dua kata bertuliskan jatuh cinta, maka langsung saja saya ceritakan bagaimana perjalanan saya menemukan cinta pada sebuah bukit dekat rumah. Selain cerita kenapa saya bisa jatuh cinta, disini juga akan dibumbui beberapa banyak keluh yang membuat saya resah seperti judul pada tulisan kali ini.

(kombinasi semesta yg bikin jatuh cinta)

Bukit yang saya datangi ini namanya "ghunong montor" tapi oleh mahasiswa kkn dari perguruan tinggi x dilabeli "bukit kembar", lengkap dengan plang penanda. Bagi orang Madura, bukit memang kerap disebut dengan ghunong yang dalam bahasa Indonesia berarti gunung. Apa yang mereka sebut sebagai ghunong sebenarnya adalah bukit, sebab ghunong mereka tidak masuk dalam kategori gunung yang harusnya memiliki ketinggian minimal 1000mdpl. Di Madura sendiri tak ada gunung, yang ada hanyalah barisan perbukitan yang rata-rata bermaterial batu kapur, membentang di tengah-tengah Pulau Madura mulai dari Bangkalan hingga Sumenep. Kembali lagi ke Bukit Kembar alias ghunong montor, sejujurnya saya lebih suka tempat ini 'hidup' apa adanya, tanpa penanda-penanda apalagi hal-hal yg nantinya membuat ghunong ini dikomersialisasikan macam ghunong-ghunong lainnya. Seperti kebanyakan bukit yang akhir-akhir ini lahir dan jadi tempat hitz di berbagai media sosial, yang menjadi perbedaan diantara mereka kebanyakan hanyalah nama tempat saja, selebihnya hampir serupa. Saking banyak dan hampir serupanya, sampai-sampai kita kebingungan, mana bukit yang berasal dari Bandung, Kulonprogo, Malang hingga tempat lainnya. Saya jadi teringat dengan materi yang disampaikan oleh dosen saya di kelas Arkeologi Pariwisata, bahwa sebenarnya yang menarik dari satu tempat adalah perbedaan ataupun keunikan yang tidak dimiliki oleh tempat lain. Apabila salah satu tempat di Sulawesi misalnya, memiliki menara yang serupa dengan Eiffel di Paris, walaupun yang di Sulawesi memiliki tinggi 3 kali lipat, maka tetap saja Eiffel adalah ciri khas dari Paris, bukan tempat lain. Di mata saya, sangat hebat apabila satu destinasi wisata benar-benar mampu mendongkrak keunikan yang memang dimiliki dan menjadi ciri dari tempat tersebut.

(welcome itu selamat datang ya, bukan jenis keset di rumahmu)

Dalam kasus ini, tanpa mengurangi sedikitpun rasa hormat saya terhadap teman-teman mahasiswa pt x, sejujurnya *jujur mulu Lin, dari tadi emangnya kamu bohong ya?* akan lebih baik menurut saya, ketika digunakan istilah lokal untuk menciptakan sesuatu yang bersumber dari yang sudah ada *apasih, sehingga lebih familiar di kalangan masyarakat sekitar. Kemarin saat saya menuju Bukit Kembar bersama sepupu yang menjadi penunjuk jalan, kami sempat bertanya kepada penduduk setempat tentang keberadaan Bukit Kembar. Ada yang langsung ngeh, ada pula yang masih bingung yang membuat saya juga jadi bingung dan berpikir, "sebenarnya Bukit Kembar ini "buatan" siapa sih, kok saya juga baru dengernya sekarang?" Sedikit berbagi informasi juga dari apa yang selama ini saya pelajari di bangku kuliah, bahwa pantang bagi saya yang tugasnya kadang-kadang suka wawancara dengan orang pakai bahasa lokal, untuk mengubah istilah-istilah lokal yang punya arti khusus di masyarakat tertentu ke dalam Bahasa Indonesia yang justru membuat istilah tersebut kehilangan arti yang sesungguhnya. Penggunaan huruf miring macam ini dapat menjadi salah satu alternatif untuk membedakan istilah tersebut dengan istilah pada umumnya, tentu dengan pembubuhan footnote ataupun glosari di dalam tulisan. Mengubah istilah lokal ke dalam bahasa Indonesia saja saya tidak boleh, apalagi mengubah nama yang membuatnya benar-benar jauh dari yang sebenarnya. Untuk Bukit Kembar ini, saya berpikir positif jika aparat desa terkait memang sudah melegalkan penamaannya yang berbeda dengan istilah masyarakat setempat. Berasumsi yang positif-positif aja yekaan, biar tidak terpelatuqe hehe.

(sebuah penanda)

(jangan spaneng ya mz mb, ayo senyum!)


Capek juga ya bahas yang serius-serius, yaudah sekarang kembali lagi kepada cerita kenapa saya jatuh cinta sama ghunong montor. Berikut beberapa alasannya:
1. Deket dari rumah
Dari rumah saya, tinggal jalan lurus ke utara sejauh kurang lebih dua kilo (( jujur saya paling kacau dalam mengira-ngira jarak )), terus belok kiri ke arah barat, ngikutin jalan yang berbelok-belok tapi tetep satu jalan, terus ada pertigaan kecil ambil arah kanan, terus lurus aja deh ke arah barat, niscaya nanti kalian akan sampai ke jalan buntu dan di rumah terakhir, di situlah kalian bisa menitipkan kendaraan. Biar ga bingung, boleh banget ngajak saya main-main, mumpung belum balik ke Jogja wkwk.

(saya yg sebelah kanan, kalo ketemu di jalan, disapa aja gapapa)


2. Banyak Ilalang
Saya paling suka sama tempat yang banyak ilalang warna cokelat. Disini, saya merasa seperti sedang berada di padang savana Rinjani atau Merbabu, tapi versi lebih mini. Saat lagi ngambil gambar matahari yang mau tenggelam, eh tiba-tiba ada tiga orang, dua perempuan dan satu laki-laki yang ternyata adalah penduduk setempat. Si laki-laki ini lah yang bercerita banyak tentang ghunong montor. Sambil menyiangi rumput buat makanan ternak, dia sekaligus mengungkapkan pandangannya tentang ghunong montor yang menjadi Bukit Kembar. Katanya, kalau sampai Bukit Kembar jadi tempat yang berkarcis, lumayan susah juga saat dia nyari rumput. Dia juga takut jika nantinya ghunong ini jadi tempat pacar-pacaran muda mudi yang kelewat batas, ehehe :(. Kalau kata salah satu perempuan, masalah sampah menjadi salah satu kekhawatirannya jika kelak tempat ini dikomersialisasikan. Memang beberapa sampah sudah mulai hinggap saat saya berkunjung kesini.

(langitnya lagi baik)

(semesta juga lagi baik)

3. Masih Sepi
Tempat yang cocok buat merenung ataupun kabur dari bunyi-bunyi kendaraan bermotor. Suara yang akan didengar di sini hanyalah; kicauan burung, suara orang kalo kalian ketemu orang, sama suara dari pengeras suara masjid kalo menjelang waktu sholat. Harapannya, sampai kapanpun tempat ini tetap sepi, bahkan ketika tempat ini jadi destinasi wisata sekalipun. Caranya gimana? ya kali aja nanti pengelola wisatanya menerapkan kuota pengunjung perhari, serta kewajiban bawa sampah pas turun dari bukit.

(kaki saya jg cuma berdua aja, jelas sepi, hhh)

4. SUNSET DI SINI KEREN
Demi apapun, saya suka ketika liat matahari terbenam disini. Dengan latar belakang dataran Madura bagian barat, serta bacaan dari masjid sebelum Maghrib, dan matahari jingga pun juga langit disekitarnya, benar-benar membuat saya berterimakasih atas rejeki yang diberikan Tuhan kepada saya sore itu.

(sunset ala-ala)

(di perjalanan turun)

(saya dan surya)


5. Ga ada tiket masuk
Hehehehehehe. Tapi mungkin saya kalah cepat, andai saya tahu tempat ini sebelum ada penanda-penanda ala-ala itu, mungkin tingkatan jatuh cinta saya bisa lebih tinggi. Eh tapi mungkin saya saja yang terlalu egois, pengen punya tempat berkeluh kesah dengan kriteria sepi, autentik, tak banyak terjamah selain oleh warga lokal, serta hidup tanpa dibayangi atek-antek kapitalisme ala Mandalawangi-nya Gie era '60an. Iya, mungkin harapan saya ketinggian, terlalu egois. Soalnya saya sadar, sudah mulai susah ketika berharap ketemu tempat main dengan ciri-ciri macam itu di zaman yg apa-apa serba "masuk = bayar" ini, kecuali kita punya gunung, pantai atau pulau pribadi, hehe. Bisa saja hari ini saya masuk tanpa bayar, tapi belum tentu hal demikian berlaku di liburan semester depan, seperti yang terjadi pada ghunong brukoh atau Bukit Brukoh di timur rumah saya yang ndilalah sudah ada tiket masuk dan ramai orang-orang jualan saja, berbeda 180 derajat dari kondisi tahun lalu yang sepi dan bebas main-main kapan aja tanpa perlu bayar. Hal seperti ini sepertinya memang sudah tidak heran terjadi di masa kini, di tengah masyarakat konsumtif yang apa-apa mau dikonsumsi sehingga apa-apa harus berbayar juga buat dikonsumsi. Mulai dari hal-hal "biasa" macam sandang, pangan dan papan, hingga konsumsi lain yang berbentuk suasana, pemandangan, waktu, media sosial, keindahan hingga hal-hal aneh lainnya.

(mas ini pas kecil suka main kejar-kejaran disini)

Harapan saya di poin 5 ini memang terlalu ambisisus, halah, terlalu berharap lebih tepatnya. Tapi walau berharap ketinggian, setidaknya harapan buat nemu tempat main tanpa perlu tiket masuk masih ada. Ya walaupun saya gatau gimana nasib mereka di masa depan. Semoga aja anak-cucu-cicit-piut sampe anggas saya dan generasi di bawahnya masih bisa main-main di bukit belakang rumah mereka tanpa perlu minta sangu ke bapak-ibuknya buat bayar retribusi. iya-iya, saya tahu kalau retribusi itu buat perawatan tempat yang bersangkutan, tapi tetap saja kan berbeda feel antara yang bayar dan yang gratis? hehe. Harapan lebihnya, semoga di masa mereka nanti, masih ada bukit-bukit dan gunung-gunung sebagai tempat main :(

(bukit sebelah kanan katanya kembaran dari bukit ini)

(saya ketemu banyak sirus)

(di hp saya mataharinya mungil, tp kenyataannya keren pake banget)

(post ini emang banyak awan-awannya ya, harap maklum)


(( kaki saya kepotong hehehe :( ))


Sekian rubik #Beropini perdana ala Linda, semoga kedepannya saya bisa lebih mahir dalam menyampaikan opini lewat kata-kata. ehehe. salam!

Jumat, 23 Juni 2017

Menuju Syawal

Tarawih terakhir, Ibu menangis di rakaat akhir
"Ketemu lagi sama Ramadhan tahun depan, insya Allah", katanya.
Tangisnya makin menjadi saat dibacakan doa sebelum shalat witir
"Yang di dunia sedang bersuka menyambut syawal, 
yang di kubur sebaliknya",
katanya lagi sambil mengusap air mata yang sudah sampai pipi.

Malam ini, kukerjakan sholat istimewa terakhir yang hanya ada di bulan mulia,
di surau sederhana peninggalan moyang tercinta.
Esok hari, kukerjakan pula dua kegiatan yang minggu depan akan kurindukan;
Sahur dan Buka Puasa bersama dengan keluarga besar.
Tak hanya minggu depan, tapi minggu-minggu seterusnya
Hingga bertemu lagi diri ini dengan bulan kebaikan bernama Ramadhan.


Lusa katanya sudah Syawal

Esok sebelum petang, akan dicari keberadaan hilal oleh sebagian orang
Esok malam, takbir akan bergema di jalan besar hingga sudut pedesaan
Esok menjelang tengah malam, sepasang ibu-bapak tengah berdoa,
menunggu kepulangan anak dari rantau agar selamat sampai desa.


Lusa katanya sudah Syawal

Seorang Bapak mengganti cat yang mulai lusuh di tembok rumah
Seorang Ibu menyuruh anak gadisnya mencuci mukenah
sedang ia tengah khusyuk mencetak suguhan paling renyah
Di sudut lain, terlihat mereka yang berjuang mengumpulkan rupiah
rupanya tahun ini "telat" membelikan baju dan sepatu baru,
untuk anak-anak yang masih setia menunggu di rumah.


Lusa katanya sudah Syawal

Sebenarnya, sudah siapkah kita berpisah dengan Ramadhan?
Semoga Tuhan berkenan memanjangkan umur kita,
mempertemukan kembali dengan bulan puasa
dimana dapat melihat senyum penjual takjil di tiap senja
dimana dapat lebih dekat lagi sebagai seorang umat dengan penciptanya.